Kisah Talenta ODP Pulau Penebang: Mereka yang Kelak Membawa Perubahan

0

KAYONG UTARA – Bagi sebagian orang, pekerjaan tetap adalah tujuan akhir. Namun bagi Rival (25), justru dari pekerjaan yang telah ia miliki, muncul keberanian untuk mengambil langkah yang tidak semua orang berani lakukan.

Sebelum berangkat ke China, putra asal Rantau Panjang, Kabupaten Kayong Utara, ini telah bekerja sebagai supervisor laboratorium di salah satu perusahaan tambang bauksit di Kalimantan Barat. Kariernya berjalan baik. Pengalaman di bidang kimia pun terus bertambah. Namun di tengah rutinitas tersebut, ia merasa masih ada ruang yang harus diisi oleh ilmu dan pengalaman yang menurutnya masih perlu diasah.

Keinginan itu bukan lahir secara tiba-tiba. Sejak mengetahui rencana pembangunan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di tanah kelahirannya, Rival sadar bahwa pengetahuan yang ia miliki dapat berkontribusi dalam industri yang tengah tumbuh di Kayong Utara. Ia percaya, kawasan industri modern bukan hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan tersebut.

Bak gayung bersambut, Rival menemukan informasi rekrutmen Operations Development Program (ODP) PT Dharma Inti Bersama melalui platform LinkedIn. Program yang menawarkan kesempatan belajar langsung di China ini seolah menjawab kegelisahan yang selama ini ia rasakan. Tanpa pikir panjang, Rival segera melengkapi seluruh persyaratan administrasi untuk mengikuti program ini.

Baginya, kesempatan tersebut lebih dari sekadar tawaran pekerjaan. Menurutnya belajar langsung dari salah satu negara pusat manufaktur dan pengolahan aluminium dunia merupakan investasi jangka panjang untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan industri yang sedang tumbuh di kampung halamannya.

“Saat itu saya sudah memiliki pekerjaan. Tetapi saya melihat kesempatan belajar bahasa Mandarin dan mendapatkan pelatihan langsung dari industri sebagai investasi jangka panjang yang sangat berharga,” ujarnya.

Berangkat ke negeri orang, bagi Rival, bukan tentang mengejar pengalaman luar negeri semata. Ia percaya, ilmu yang dibawa pulang akan lebih bermakna ketika mampu membuka jalan bagi masyarakat di daerah asalnya untuk tumbuh bersama industri yang tengah dibangun dan merasakan manfaat dari setiap perubahan yang tercipta. 

Pendidikan dan Harapan Membangun Tanah Kelahiran

Menuntut ilmu jauh di negeri orang memberi Rival pelajaran yang jauh melampaui ruang kelas. Di sana, Rival melihat bagaimana efisiensi menjadi bagian dari budaya kerja sehari-hari. Waktu dihargai, pekerjaan diselesaikan secara terukur, dan setiap orang memahami perannya dalam proses produksi. Bagi seseorang yang telah memiliki pengalaman bekerja di industri, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana standar operasional dijalankan dalam skala yang lebih besar.

Pembelajaran pun berlangsung berbeda. Jika sebelumnya ia mempelajari bahasa Mandarin sebagai kemampuan dasar, selama mengikuti ODP di China ia mulai mengenal kosakata teknis yang digunakan di lingkungan pabrik. Bersamaan dengan itu, ia mempelajari istilah keselamatan kerja, operasi produksi, hingga dasar proses elektrolisis dalam pengolahan alumina menjadi aluminium langsung dari lingkungan industri.

“Di Indonesia, pembelajaran Mandarin lebih banyak berfokus pada HSK dan dasar-dasar bahasa, dengan materi teknis yang masih sederhana, sementara di China, pembelajaran lebih spesifik dan langsung mengarah ke lingkungan industri” kata Rival dengan antusias.

Baginya, kemampuan teknis dan penguasaan bahasa bukanlah dua hal yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan bekal yang saling melengkapi dalam menghadapi perkembangan industri global.

Pengalaman tinggal di China juga mengajarkannya untuk lebih terbuka terhadap perbedaan. Ia belajar beradaptasi dengan cuaca, budaya, hingga cara masyarakat bekerja. Perlahan, keterbatasan bahasa yang sempat menjadi tantangan berubah menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan memahami cara berpikir yang berbeda.

“Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk menjadi lebih mandiri, terbuka terhadap perbedaan, serta lebih siap menghadapi tantangan di lingkungan yang baru” tambahnya.

Namun, seluruh pengalaman itu pada akhirnya bermuara pada satu harapan yang sederhana.

Rival ingin melihat Kayong Utara tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil sumber daya alam, tetapi juga sebagai daerah yang melahirkan sumber daya manusia berdaya saing.

“Saya berharap pembangunan ini tidak hanya membawa investasi, tetapi juga membuka banyak lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Saya ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa terlibat langsung dalam perkembangan industri di daerahnya sendiri” ujar Rival penuh harap.

Baginya, industrialisasi bukan semata soal berdirinya smelter atau masuknya investasi bernilai triliunan rupiah. Industrialisasi baru benar-benar bermakna ketika putra-putri daerah memiliki kemampuan untuk berdiri di dalamnya sebagai tenaga profesional, pengambil keputusan, sekaligus penggerak perubahan.

Baca juga:
Bukan Sekadar Bersih-Bersih, Kayong Utara Gotong Royong Massal Sambut MTQ Kalbar ke-34

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *