Mengenal Doa Kasah, Tradisi Masyarakat Melayu yang Sarat Makna

0

Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah, sejumlah tradisi tetap bertahan sebagai bagian dari identitas dan ingatan bersama. Salah satunya adalah Doa Kasah, tradisi masyarakat Melayu di wilayah Ketapang dan sekitarnya yang memadukan doa, kebersamaan, serta harapan akan keselamatan.

Doa Kasah dikenal sebagai tradisi yang dilakukan secara bersama-sama dengan memanjatkan doa kepada Allah SWT. Dalam catatan budaya masyarakat Melayu Ketapang, tradisi ini erat kaitannya dengan permohonan agar masyarakat dijauhkan dari bala dan kesulitan, termasuk ketika menghadapi kemarau panjang.

Dari Mana Nama Doa Kasah Berasal?

Dalam catatan Adat Istiadat Daerah Kalimantan Barat, istilah Kasah disebut sebagai kependekan dari Akasyah atau Sayidina Akasyah, yang dalam tradisi setempat dikaitkan dengan salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Doa Kasah kemudian merujuk pada upacara yang diselenggarakan untuk membaca doa tersebut.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai keagamaan hidup berdampingan dengan kebiasaan masyarakat dan menjadi bagian dari budaya lokal yang diwariskan antargenerasi.

Ketika Satu Kampung Berjalan dalam Doa

Salah satu hal yang membuat Doa Kasah begitu menarik adalah pelaksanaannya yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama.

Dalam catatan mengenai tradisi Melayu Ketapang, Doa Kasah dapat dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut pada sore hari. Warga menyiapkan wadah berisi air seperti tempayan, ember, ceret, atau panci di sepanjang jalan yang akan dilewati rombongan. Peserta kemudian dibagi dalam beberapa kelompok dan menyusuri jalan-jalan di kampung sambil mengumandangkan azan dan membaca doa.

Di beberapa daerah, bentuk pelaksanaannya dapat memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya, catatan mengenai Riam Danau menyebut adanya prosesi berjalan dari ujung kampung ke ujung kampung sambil membaca ayat Al-Qur’an dan doa, sementara warga menyiapkan air di depan rumah.

Karena itu, Doa Kasah bukan hanya tentang rangkaian prosesi. Di dalamnya terdapat gambaran tentang sebuah kampung yang berkumpul, berjalan bersama, dan menyatukan harapan melalui doa.

Lebih dari Sekadar Tradisi

Doa Kasah memperlihatkan kuatnya hubungan antara kehidupan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Ketika warga berkumpul dan mengikuti prosesi bersama, ruang-ruang kampung menjadi tempat bertemunya berbagai generasi. Ada yang mengikuti doa, ada yang menyiapkan air, dan ada pula yang menyambut rombongan di sepanjang perjalanan.

Nilai kebersamaan seperti inilah yang membuat tradisi lokal memiliki arti lebih dari sekadar warisan masa lalu. Ia menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus mengingatkan generasi berikutnya pada akar budaya mereka.

Catatan tentang budaya Melayu Ketapang juga menunjukkan bahwa Doa Kasah termasuk tradisi lokal yang perlu terus dikenalkan agar tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Menjaga Tradisi, Menjaga Ingatan

Tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama persis. Yang tidak kalah penting adalah menjaga nilai dan cerita yang hidup di baliknya.

Doa Kasah mengajarkan bahwa sebuah doa dapat menjadi bagian dari perjalanan sebuah komunitas. Ketika masyarakat berjalan bersama dari satu sudut kampung ke sudut lainnya, yang dibawa bukan hanya lantunan doa, tetapi juga harapan, kebersamaan, dan ingatan tentang siapa mereka.

Di tengah zaman yang semakin modern, mengenal dan mendokumentasikan tradisi seperti Doa Kasah menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa cerita tentang budaya lokal tetap memiliki tempat bagi generasi berikutnya.

Baca juga:
Mengenal Kerajaan Tanjungpura, Peradaban Tertua Kalimantan Barat yang Lahir di Tanah Kayong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *