Mengenal Syair Gulung, Warisan Sastra Melayu Tanah Kayong yang Kini Diakui Nasional

Syair Gulung merupakan karya sastra seperti puisi lama dengan irama khas masyarakat Melayu di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat — peninggalan Kerajaan Matan-Tanjungpura yang kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Dan pada tahun 2026, tradisi sastra lisan ini kembali mencatat prestasi membanggakan dengan mencetak Rekor MURI untuk kategori Syair Gulung Terpanjang dalam gelaran Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026.
Asal Usul Nama yang Unik
Semula sastra ini diberi nama kengkarangan yang artinya sesuatu yang dikarang. Ada juga yang menyebutnya syair layang karena isinya hanya selayang pandang. Lama-kelamaan karena syair tersebut selalu digulung dan digantung pada paruh burung kertas di puncak kekayun atau pohon-pohonan hias yang dibuat dalam setiap acara adat Melayu, maka akhirnya masyarakat menyebutnya Syair Gulung.
Media Dakwah yang Menjadi Seni
Dahulunya Syair Gulung dipakai oleh para da’i yang datang ke Tanah Kayong sebagai media dalam menyebarkan dakwah Islam. Bait-baitnya mengandung nasihat dan petunjuk hidup yang disampaikan dengan irama khas Melayu. Seni budaya ini masih dilestarikan dan dilantunkan dalam acara-acara resmi dan tidak resmi, seperti keagamaan, pernikahan, khataman Al-Qur’an, hingga berbagai perayaan adat.
Syair Gulung memiliki beberapa irama khas seperti Seluang Beranyut, Awan Lemang, Lemang Melayu, Ayun Anak, dan Lembang Melayu Kayong. Setiap irama memiliki nada yang berbeda, dan ketika seorang penyair mahir melantunkannya dengan intonasi yang tepat, pendengar seolah-olah bisa melihat dan merasakan apa yang dilukiskan oleh sang penyair.
Rekor MURI 2026
Tradisi sastra lisan khas Melayu Tanah Kayong ini resmi mencetak Rekor MURI untuk kategori Syair Gulung Terpanjang dalam gelaran Festival Syair Gulung Tanah Kayong 2026. Festival yang mengusung semangat “Mencintai Negeri Melalui Syair” ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat, budayawan, pelajar, hingga generasi muda Ketapang — membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya lokal masih tumbuh kuat di tengah arus modernisasi.
Syair Gulung bukan sekadar warisan masa lalu — ia adalah identitas yang hidup dan terus relevan bagi masyarakat Melayu Tanah Kayong hingga hari ini.
Baca juga:
olo Trip ke Kayong Utara, Panduan Lengkap untuk Pemula yang Ingin Jelajahi Tanah Kayong